Pola Lengkap Penelitian Tindakan Sekolah Lengkap
contoh dan cara Penelitian Tindakan Sekolah: "Efektivitas Kegiatan Pe tes kempuan dan pemahaman Dan Bimbingan (LATBIM) Yang Dilakukan Kepala Sekolah Terhadap Peningkatan Keterampilan Guru Dalam Penerapan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, Dan Menyenangkan (PAKEM) Di SMPN 2 Cikeusik Kabupaten Pandeglang"
BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Adanya kebijakan peningkatan jaminan kualitas lulusan pendidikan dasar membawa konsekuensi di bidang pendidikan, antara lain perubahan dari model pembelajaran yang tradisional (model atau metode pembelajaran yang lebih berpusat guru) ke pengembangan model atau metode yang lebih berpusat pada siswa. Hal demikian menuntut kemampuan guru dalam merancang model pembelajaran yang lebih berpusat pada siswa, sesuai dengan karakteristik bidang kajian dan karakteristik siswa semoga mencapai hasil yang maksimal. Oleh kerana itu kiprah guru dalam konteks pembelajaran menuntut perubahan, antara lain: (a) peranan guru sebagai penyebar isu semakin kecil, tetapi lebih banyak berfungsi sebagai pembimbing, penasehat, dan pendorong, (b) penerima didik yaitu individu-individu yang kompleks, yang berarti bahwa mereka mempunyai perbedaan cara berguru sesuatu yang tidak serupa pula, (c) proses berguru mengajar lebih ditekankan pada berguru daripada mengajar.
Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam mengimplementasikan pergeseran kiprah guru dalam pembelajaran, yaitu :
a. cara Dan Teknik pandang guru terhadap siswa perlu diubah. Siswa bukan lagi sebagai obyek pengajaran, tetapi siswa sebagai pelaku aktif dalam proses pembelajaran. Dalam diri siswa terdapai banyak sekali potensi yang siap dikembangkan. Oleh katena itu dalam konteks pembelajaran guru diperlukan bisa mempersembahkan dorongan kepada siswa untuk menyebarkan diri sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
b. Guru diperlukan bisa mengajarkan bagaimana siswa bisa bekerjasama dengan masalah yang dihadapi dan mengatasi problem yang muncul di masyarakat. Antara lain dengan cara mempersembahkan tantangan yang berupa kasus-kasus yang sering terjadi di masyarakat yang terkait bidang studi. Melalui kegiatan tersebut diperlukan siswa sanggup menyebarkan potensi yang dimilikinya, yang pada alhasil sanggup dipakai sebagai bekal kemandirian dalam menghadapi banyak sekali tantangan di masyarakat. Bahkan lebih jauh lagi diperlukan bisa ikut ambil penggalan dalam menyebarkan potensi masyarakatnya.
Berdasarkan pengamatan yang penulis lakukan, khusus sebagian kecil guru SMPN 2 Cikeusik yang telah dan sudah menerapkan pendekatan pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan membuat senang (yang selanjutnya disebut PAKEM) dalam pelaksanaan KBM. Mereka yang telah dan sudah menerapkan PAKEM yaitu guru-guru yang di bawah binaan UNICEF, yakni guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, IPA, Matematika, B.Inggris, dan IPS. Guru-guru lain belum menerapkan pendekatan PAKEM dengan alasan mereka belum mendapatkan pe tes kempuan dan pemahaman penerapan PAKEM. Bahkan, sebagian guru yang masuk dalam kelompok binaan UNICEF pun belum sepenuhnya memakai PAKEM.
Melihat kondisi tersebut nampaknya perlu perjuangan untuk mempersembahkan pemahaman dan keterampilan kepada guru SMPN 2 Cikeusik sehubungan penerapan PAKEM. Untuk mewujudkan kompetensi dan kiprah guru dalam penerapan PAKEM perlu adanya upaya yang dilakukan baik oleh dinas pendidikan, pengawas sekolah, maupun kepala sekolah. Salah satu upaya yang sanggup dilakukan kepala sekolah dalam rangka peningkatan keterampilan guru dalam penerapan PAKEM yaitu melalui Pe tes kempuan dan pemahaman dan Bimbingan (yang selanjutnya disebut LATBIM).
Berdasarkan uraian di atas, penulis mencoba mengadakan penelitian tindakan sekolah untuk mengetahui efektivitas kegiatan LATBIM yang dilakukan kepala sekolah terhadap peningkatan keterampilan guru dalam penerapan PAKEM.
B. Identifikasi Masalah
Terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab masih rendahnya keterampilan guru SMPN 2 Cikeusik, khususnya guru-guru yang tidak termasuk dalam mapel binaan UNICEF dalam menerapkan PAKEM, antara lain:
a) Kurangnya atau tidak adanya kegiatan pe tes kempuan dan pemahaman dan bimbingan sehubungan PAKEM;
b) Keterbatasan sarana dan prasana pembelajaran untuk menyebarkan PAKEM;
c) Masih kurangnya tenaga kependidikan yang sesuai dengan riwayat pendidikan, sehingga sulit untuk menyebarkan PAKEM;
d) Motivasi guru dan tenaga kependidikan lainnya masih rendah;
e) Tidak berfungsinya kiprah pengawas sekolah
C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan hasil identifikasi masalah dan dengan mempertimbangkan waktu, tenaga dan biaya yang tersedia, penelitian tindakan sekolah ini khusus membatasi pada masalah kurangnya atau tidak adanya kegiatan pe tes kempuan dan pemahaman dan bimbingan sehubungan PAKEM menjadi salah satu penyebab kurangnya atau lemahnya keterampilan guru dalam PAKEM.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, permasalahan dalam penelitian di rumuskan sebagai berikut:
Bagaimana efektivitas kegiatan pe tes kempuan dan pemahaman dan bimbingan (LATBIM) yang dilakukan Kepala Sekolah terhadap peningkatan keterampilan guru dalam penerapan pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan membuat senang (PAKEM) di SMPN 2 Cikeusik Kabupaten Pandeglang?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan khusus dari kegiatan penelitian tindakan sekolah ini yaitu untuk mengetahui efevtivitas upaya peningkatan keterampilan guru dalam penerapan PAKEM melalui LATBIM di SMPN 2 Cikeusik kabupaten Pandeglang.
Sedangan tujuan umum dari kegiatan penelitian tindakan sekolah ini yaitu untuk peningkatan kualitas proses dan hasil berguru di SMPN 2 Cikeusik.
F. Manfaat Penelitian
Penelitian tindakan sekolah ini diperlukan akan mempersembahkan manfaat untuk perbaikan dan peningkatan proses hasil berguru terutama bagi perorangan atau institusi di bawah ini.
1. Bagi Siswa : disertakan bersama penerapan pendekatan PAKEM, siswa akan tergugah semangat belajarnya sehingga menambah akan keberanian untuk bertanya, menjawab, melaksanakan sesuatu tindakan yang berpola terstruktur, menemukan dan menyebarkan ide-ide baru, sehingga acara dan antusias berguru siswa lebih meningkat.
2. Bagi Guru : Kemampuan menerapkan PAKEM akan memberi akomodasi dalam melaksanakan kiprah mengajarnya, lantaran yang lebih aktif yaitu siswa, dan guru khusus mengarahkan saja.
3. Bagi Sekolah : Hasil dari proses berguru mengajar yang efektif dan membuat senang diperlukan sanggup meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.
G. Definisi Istilah
Beberapa istilah yang dipergunakan dalam penelitian tindakan sekolah ini, antara lain:
1. PAKEM yaitu kependekan dari pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus membuat suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan; Kreatif dimaksudkan semoga guru membuat kegiatan berguru yang bermacam-macam sehingga memenuhi banyak sekali tingkat kemampuan siswa; Efektif bermakna bahwa proses pembelajaran menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa, sedangkan Menyenangkan yaitu suasana belajar-mengajar yang membuat senang sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada berguru sehingga waktu curah perhatiannya (“time on task”) tinggi.
2. Pe tes kempuan dan pemahaman dan Bimbingan (LATBIM) pengembangan PAKEM yaitu gabungan kegiatan pe tes kempuan dan pemahaman dan sekaligus bimbingan sehubungan penerapan PAKEM.
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM)
1. Pengertian Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM)
Pembelajaran ialah salah satu unsur penentu baik tidaknya lulusan yang dihasilkan oleh suatu sistem pendidikan. Ia menyerupai jantung dari proses pembelajaran. Pembelajaran yang baik cenderung menghasilkan lulusan dengan hasil berguru yang baik pula. Demikian pula sebaliknya.
Hasil berguru pendidikan di Indonesia masih dipandang kurang baik. Sebagian besar siswa belum bisa menggapai potensi ideal/optimal yang dimilikinya. Oleh lantaran itu, perlu ada perubahan proses pembelajaran dari kebiasaan yang sudah berlangsung selama ini. Pembelajaran yang ketika ini dikembangkan dan banyak dikenalkan ke seluruh pelosok tanah air yaitu Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan atau disingkat dengan PAKEM. Disebut demikian lantaran pembelajaran ini dirancang semoga mengaktifkan anak, menyebarkan kreativitas sehingga efektif namun tetap membuat bahagia.
Apa itu PAKEM? PAKEM yaitu kependekan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus membuat suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar memang ialah suatu proses aktif dari si pembelajar dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang khusus mendapatkan kucuran ceramah guru sehubungan pengetahuan. Jika pembelajaran tidak mempersembahkan waktu yang sempurna kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajaran tersebut bersehubunganan dengan hakikat belajar. Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang bisa menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain.
Kreatif juga dimaksudkan semoga guru membuat kegiatan berguru yang bermacam-macam sehingga memenuhi banyak sekali tingkat kemampuan siswa. Menyenangkan yaitu suasana belajar-mengajar yang membuat senang sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada berguru sehingga waktu curah perhatiannya (“time on task”) tinggi. Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah perhatian terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan membuat senang tidaklah cukup jikalau proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa sehabis dan sudah proses pembelajaran berlangsung, alasannya pembelajaran mempunyai sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran khusus aktif dan membuat senang tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya mirip bermain biasa.
Secara garis besar, PAKEM sanggup digambarkan sebagai berikut:
• Siswa terlibat dalam banyak sekali kegiatan yang menyebarkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan pemfokusan pada berguru melalui berbuat.
• Guru memakai banyak sekali alat menolong dan banyak sekali cara dalam membangkitkan semangat, termasuk memakai lingkungan sebagai sumber berguru untuk menjadikan pembelajaran unik dan menarik, membuat bahagia, dan cocok bagi siswa.
• Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan materi berguru yang lebih unik dan menarik dan menyediakan ‘pojok baca’
• Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara berguru kelompok.
• Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkam siswa dalam membuat lingkungan sekolahnya.
2. Bagaimana Pelaksanaan PAKEM?
Gambaran PAKEM diperlihatkan dengan banyak sekali kegiatan yang terjadi selama KBM. Pada ketika yang sama, citra tersebut menawarkan kemampuan yang perlu dikuasai guru untuk membuat keadaan tersebut. Berikut yaitu tabel beberapa teladan kegiatan KBM dan kemampuan guru yang besesuaian.
Guru merencang dan mengelola KBM yang mendorong siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran | Guru melaksanakan KBM dengan kegiatan yang beragam, misalnya: ü Percobaan ü Diskusi kelompok ü Memecahkan masalah ü Mencari isu ü Menulis laporan/puisi/cerita ü Berkunjung keluar kelas |
Guru memakai alat menolong dan sumber berguru yang beragam | Sesuai mata pelajaran guru memakai misalnya: ü Alat yang tersedia/dibuat sendiri ü Gambar ü Studi Kasus ü ü Lingkungan |
Guru mempersembahkan waktu yang sempurna kepada siswa untuk menyebarkan keterampilan | Siswa: ü Melakukan percobaan, pengamatan atau wawancara ü Mengumpulkan data atau balasan dan mengolahnya sendiri ü Menarik kesimpulan ü Memecahkan masalah atau mencari rumus sendiri ü Menulis laporan/hasil karya lain dengan kata-kata sendiri |
Guru memberi waktu yang sempurna kepada siswa untuk mengemukakan gagasan secara verbal atau goresan pena | Melalui: ü Diskusi ü Lebih banyak pertanyaan terbuka ü Hasil karya yang ialah pemikiran anak sendiri |
Guru menyesuaikan materi dan kegiatan berguru dengan kemampuan siswa | ü Siswa dikelompok sesuai dengan kemampuan (untuk tugas/kegiatan tertentu) ü Bahan berguru diubahsuaikan dengan kemampuan kelompok tersebut ü Tugas perbaikan atau pengayaan diberikan |
Guru mengkaitkan KBM dengan pengalaman siswa sehari-hari | ü Siswa menceritakan atau memanfaatkan pengalaman sendiri ü Siswa menerapkan hal yang dipelajari dalam kegiatan sehari-hari |
Menilai KBM dan kemajuan siswa secara terus menerus | ü Guru memantau kerja siswa ü Guru mempersembahkan umpan balik |
3. Hal-Hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan PAKEM
Apa yang harus diperhatikan dalam melaksanakan PAKEM?
1. Memahami sifat yang dimiliki anak
Pada dasarnya anak mempunyai sifat: rasa ingin tahu dan berimajinasi. Anak desa, anak kota, anak orang kaya, anak orang miskin, anak Indonesia, atau anak bukan Indonesia – selama mereka normal terlahir mempunyai kedua sifat itu. Kedua sifat tersebut ialah modal dasar bagi berkembangnya sikap/berpikir kritis dan kreatif. Kegiatan pembelajaran ialah salah satu lahan yang harus kita olah sehingga subur bagi berkembangnya kedua sifat anugerah Tuhan tersebut. Suasana pembelajaran yang ditunjukkan dengan guru memuji anak lantaran hasil karyanya, guru mengajukan pertanyaan yang menantang, dan guru yang mendorong anak untuk melaksanakan percobaan, misalnya, ialah pembelajaran yang subur mirip yang dimaksud.
2. Mengenal anak secara perorangan
Para siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan mempunyai kemampuan yang tidak serupa. Dalam PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan) perbedaan individual perlu diperhatikan dan harus tercermin dalam kegiatan pembelajaran. Semua anak dalam kelas tidak selalu mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan tidak serupa sesuai dengan kecepatan belajarnya. Anak-anak yang mempunyai kemampuan lebih sanggup dimanfaatkan untuk memmenolong kawannya yang lemah (tutor sebaya). disertakan bersama mengenal kemampuan anak, kita sanggup memmenolongnya bila menerima kesulitan sehingga anak tersebut berguru secara optimal.
3. Memanfaatkan sikap anak dalam pengorganisasian belajar
Sebagai makhluk sosial, anak semenjak kecil secara alami bermain berpasangan atau berkelompok dalam bermain. Perilaku ini sanggup dimanfaatkan dalam pengorganisasian belajar. Dalam melaksanakan kiprah atau me review sesuatu, anak sanggup bekerja berpasangan atau dalam kelompok. Berdasarkan pengalaman, anak akan menuntaskan kiprah dengan baik bila mereka duduk berkelompok. Duduk mirip ini memudahkan mereka untuk berinteraksi dan bertukar pikiran. Namun demikian, anak perlu juga menuntaskan kiprah secara perorangan semoga talenta individunya berkembang.
4. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah
Pada dasarnya hidup ini yaitu memecahkan masalah. Hal tersebut memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisis masalah; dan kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah. Kedua jenis berpikir tersebut, kritis dan kreatif, berasal dari rasa ingin tahu dan imajinasi yang keduanya ada pada diri anak semenjak lahir. Oleh lantaran itu, kiprah guru yaitu mengembangkannya, antara lain dengan sesering-seringnya mempersembahkan kiprah atau mengajukan pertanyaan yang terbuka. Pertanyaan yang dimulai dengan kata-kata “Apa yang terjadi jikalau …” lebih baik daripada yang dimulai dengan kata-kata “Apa, berapa, kapan”, yang umumnya tertutup (jawaban betul khusus satu).
5. Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan berguru yang unik dan menarik
Ruang kelas yang unik dan menarik ialah hal yang sangat disarankan dalam PAKEM. Hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas mirip itu. Selain itu, hasil pekerjaan yang dipajangkan diperlukan memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menjadikan wangsit bagi siswa lain. Yang dipajangkan sanggup berupa hasil kerja perorangan, berpasangan, atau kelompok. Paijan sanggup berupa gambar, peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan, dan sebagainya. Ruang kelas yang penuh dengan paijan hasil pekerjaan siswa, dan ditata dengan baik, sanggup memmenolong guru dalam KBM lantaran sanggup dijadikan referensi ketika me review suatu masalah.
6. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
Lingkungan (fisik, sosial, atau budaya) me-rupakan sumber yang sangat kaya untuk materi berguru anak. Lingkungan sanggup ber-peran sebagai media belajar, tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar). Penggunaan lingkungan sebagai sumber berguru sering membuat anak merasa senang dalam belajar. Belajar dengan memakai lingkungan tidak selalu harus keluar kelas. Bahan dari lingkungan sanggup dibawa ke ruang kelas untuk menghemat biaya dan waktu. Pemanfaatan lingkungan sanggup menyebarkan sejumlah keterampilan mirip mengamati (dengan seluruh indera), mencatat, merumuskan pertanyaan, berhipotesis, mengklasifikasikan, membuat tulisan, dan membuat gambar/diagram.
7. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar
Mutu hasil berguru akan meningkat bila terjadi interaksi dalam belajar. Pemberian umpan balik dari guru kepada siswa ialah salah satu bentuk interaksi antara guru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap kekuatan daripada kelemahan siswa. Selain itu, cara mempersembahkan umpan balik pun harus secara santun. Hal ini dimaksudkan semoga siswa lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas berguru selanjutnya. Guru harus konsisten mengusut hasil pekerjaan siswa dan mempersembahkan komentar dan catatan. Catatan guru berkaitan dengan pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa daripada khusus sekedar angka.
8. Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental
Banyak guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa kelihatan sibuk bekerja dan bergerak. Apalagi jikalau kursi dan meja diatur berkelompok serta siswa duduk saling ber-hadapan. Keadaan tersebut bukanlah ciri yang bergotong-royong dari PAKEM. Aktif mental lebih diinginkan daripada aktif fisik. Sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan ialah gejala aktif mental. Syarat berkembangnya aktif mental yaitu tumbuhnya perasaan tidak takut: takut ditertawakan, takut disepelekan, atau takut dimarahi jikalau salah. Oleh lantaran itu, guru hendaknya menghilangkan penyebab rasa takut tersebut, baik yang tiba dari guru itu sendiri maupun dari kawannya. Berkembangnya rasa takut sangat bersehubunganan dengan ‘PAKEM.’
B. Pe tes kempuan dan pemahaman dan Bimbingan PAKEM
1. Pengertian dan Tujuan Pe tes kempuan dan pemahaman dan Bimbingan (LATBIM)
LATBIM pengembangan PAKEM yaitu gabungan kegiatan pe tes kempuan dan pemahaman dan sekaligus bimbingan sehubungan penerapan pembelajaran Aktif, Kreatif, Inovatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM).
Kegiatan yang akan diselenggarakan di SMPN 2 Cikeusik Kabupaten Pandeglang bertujuan:.
a) Meningkatkan pemahaman Guru SMPN 2 Cikeusik dalam menyebarkan PAKEM.
b) Meningkatkan keterampilan Guru SMPN 2 Cikeusik dalam menyebarkan PAKEM.
2. Sasaran Pe tes kempuan dan pemahaman dan Bimbingan (LATBIM)
Sasaran kegiatan LATBIM ini yaitu seluruh Guru di SMPN 2 Cikeusik Kabupaten Pandeglang, yakni sebanyak 17 orang guru. Rincian untuk 17 orang guru mata pelajaran yaitu sebagai berikut:
a. Mata Pelajaran Pendidikan Agama 1 orang
b. Mata Pelajaran TIK 1 orang
c. Mata Pelajaran Penjaskes 1 orang
d. Mata Pelajaran Seni Budaya 1 orang
e. Mata Pelajaran PKn 1 orang
f. Mata Pelajaran IPA 2 orang
g. Mata Pelajaran IPS 2 orang
h. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia 2 orang
i. Mata Pelajaran Bahasa Inggris 2 orang
j. Mata Pelajaran Matematika 2 orang
k. Mata Peelajaran Bahasa Daerah 1 orang
l. Mata Pelajaran Mulok Keterampilan 1 Orang
3. Pelaksana Pe tes kempuan dan pemahaman dan Bimbingan (LATBIM)
Pelaksana kegiatan LATBIM pengembangan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan membuat senang ini yaitu Kepala SMPN 2 Cikeusik dimenolong oleh Panitia yang terdiri dari unsur guru dan staf tata usaha.
4. Biaya Kegiatan Pe tes kempuan dan pemahaman dan Bimbingan (LATBIM)
Biaya kegiatan LATBIM pengembangan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan membuat senang (PAKEM) ini yaitu dana BOS untuk jadwal pengambangan profesi guru dan sumber dana lain yang tersedia.
5. Waktu dan Tempat Kegiatan Pe tes kempuan dan pemahaman dan Bimbingan (LATBIM)
LATBIM pengembangan PAKEM bagi Guru SMPN 2 Cikeusik ini dilaksanakan di SMPN 2 Cikeusik mulai tanggal 2 Oktober 2010 – 30 Oktober 2010..
6. Struktur Program Pe tes kempuan dan pemahaman dan Bimbingan (LATBIM)
Untuk mencapai tujuan menurut hasil kesimpuan disebutkan di depan, kegiatan LATBIM pengembangan PAKEM ini dilaksanakan dengan struktur jadwal berikut:
No. | Materi/Kegiatan | Alokasi Waktu | |
LATBIM DALAM BENTUK WORKSHOP | |||
1. | Pembukaan | 1 hari | |
2. | Pre Test | ||
3. | Teori Pengembangan Pendekatan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM). | ||
4. | Praktek Menyusun RPP yang menerapkan metode dan/atau model yang mengedepankan pendekatan PAKEM. | ||
5 | Post Test | ||
LATBIM DALAM BENTUK PRAKTEK LANGSUNG DI KELAS (I) | |||
6 | Pembimbingan pembuat perangkat pembelajaran yang mengdepankan pendekatan PAKEM | ||
7. | Real Teaching atau KBM memakai RPP yang menerapkan metode dan/atau model yang mengedepankan pendekatan PAKEM. | 1 Minggu | |
8. | Refleksi dan pembimbingan untuk merevisi perangkat pembelajaran yang akan dipakai pada siklus berikutnya | ||
LATBIM DALAM BENTUK PRAKTEK LANGSUNG DI KELAS (II) | |||
9. | Real Teaching atau KBM memakai RPP yang menerapkan metode dan/atau model yang mengedepankan pendekatan PAKEM (hasil revisi tahap sebelumnya). | 1 Minggu | |
7. Skenario Kegiatan Bimbingan Teknis
a) Pembukaan
Pembukaan diikuti oleh semua penerima dalam satu ruang sidang besar. Dalam pembukaan disampaikan klarifikasi teknis (tujuan/hasil yang diharapkan, peserta, mekanisme, jadwal) pelaksanaan Latihan dan Bimbingan. Setelah dan sudah kegiatan pembukaan selesai dilanjutkan dengan kegiatan pre tes.
b) Kegiatan inti
Kegiatan inti LATBIM pengembangan PAKEM ini dilaksanakan dalam bentuk sidang pleno dan praktek di kelas (Real Teaching).
a) Sidang pleno berupa presentasi materi-meteri umum oleh nara sumber yang diikuti oleh tanya-jawab dan diskusi masalah-masalah yang terkait eksklusif dengan pokok materi yang disajikan. Tahap pertama sehabis dan sudah pembukaan disampaikan Teori Pengembangan Pendekatan PAKEM. Selanjutnya tahap ke dua diisi dengan Praktek Menyusun Silabus dan RPP yang menerapkan pendekatan PAKEM. Selesai kegiatan ini dilanjutkan dengan post tes. Hal ini disebabkan lantaran kegiatan berikutnya akan dilaksanakan dalam bentuk praktek eksklusif dikelas.
b) Real Teching berupa kegiatan mempraktekkan Silabus dan RPP yang menerapkan pendekatan PAKEM. Silabus dan RPP ini harus sudah dibentuk pada sidang pleno. Setelah dan sudah kegiatan real teaching dilaksanakan diadakan refleksi untuk mengetahui beberbagai masih banyak hal yang harus diperbaiki yang selanjutnya dijadikan dasar untuk kegiatan real teaching berikutnya.
8. Bahan-bahan Kegiatan Latihan dan Bimbingan
Bahan-bahan bimbingan teknis yaitu materi-materi presentasi:
1. SI dan SKL
2. Pengembangan Profesionalisme Guru yang Berkelanjutan
3. Model-model Pembelajaran Aktif
C. Deskripsi Kondisi Sekolah
SMP Negeri 2 Cikeusik berdiri pada tanggal 29 Januari 1998 melalui SK Mendikbud No 13a/0/1/1998. Letak geografis SMPN 2 Cikeusik lebih kurang 4 KM dari kecamatan Ciekusik dan 80 KM sebelah selatan ibu kota Kabupaten Pandeglang. Sekolah ini beralamat di JL. Raya Umbulan Km. 03 Kecamatan Cikeusik, Pandeglang
Sebagai kawasan yang posisi letaknya cukup jauh dengan ibu kota kabupaten ditunjang oleh keadaan infrastruktur (jalan) yang kondisi masih rusak menjadi salah satu penyebab kondisi masyarakat di sekitar SMPN 2 Cikeusik secara keseluruhan masih jauh dari impian (sejahtera). Hal ini terlihat dari data tingkat kesejahteraan orang renta siswa SMPN 2 Cikeusik sekitar 80% berada pada tahap prasejahtera.
Sejalan dengan tingkat kesejahteraan penduduk yang masih rendah, tingkat kesadaran penduduk sekitar sekolah terhadap pentingnya pendidikan juga masih kurang dan terlihat dari: a) masih terdapatnya anak usia sekolah yang menempuh pendidikan; b) masih rendahnya dukungan orang renta siswa (masyarakat) sekitar sekolah terhadap jadwal sekolah, baik dukungan moril maupun materiil.
Kondisi sosial masyarakat di sekitar sekolah sangatlah heterogen lantaran ialah adonan dari penduduk orisinil dan transmigran (asal Cirebon dan Indramayu). Namun, dilihat dari mata pencaharian umumnya bersifat sejenis lantaran mereka sebagian besar bekerja sebagai buruh tani dan petani.
Keadaan siswa SMPN 2 Cikeusik pada tahun 2010/2011 sanggup dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1
Keadaan siswa SMPN 2 Cikeusik pada tahun 2010/2011
KLS/ TINGK. | ROMBEL | JML.MURID | ||
L | P | JML. | ||
VII | 4 | 67 | 43 | 110 |
VIII | 3 | 58 | 71 | 129 |
IX | 3 | 43 | 45 | 88 |
JML. | 10 | 168 | 159 | 327 |
Adapun tingkat pendidikan orang renta siswa 50% SD, 30% SMP, 8% SMA, 2% S1, dan 10% di bawah SD.
Tenaga Pendidik di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Cikeusik berjumlah 18 orang dengan rincian : Sarjana 16 orang (89%) dan belum sarjana 2 orang (11%). Sedangkan tenaga kependidikan berjumlah 4 orang dengan rincian : 3 orang (75%) lulusan SMA/SMK, dan 1 (25%) orang lulusan SMP.
Potensi yang dimiliki oleh para siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Cikeusik yang sanggup dikembang, diantaranya olah raga (atletik, bola voly dan sepak bola), seni membaca Al Qur’an, Seni Qasidah, Vokal Grup dan pengembangan di bidang akademik. Namun, hal tersebut kurang sanggup berkembang secara maksimal. Hal ini disebabkan kurangnya sarana penunjang dan dana yang dibutuhkan dalam rangka meningkatkan potensi tersebut.
Saat ini Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Cikeusik termasuk salah satu dari sekian Sekolah Menengah Pertama di Kabupaten Pandeglang yang menerima binaan eksklusif dari Program Mainstreamig Good Practices in Basic Education (MGP-BE) kejasama Dinas Pendidikan disertakan bersama UNICEF dari sumbangan dan dukungan Uni Eropa. Salah satu jadwal MGP-BE ini yaitu adalah meningkatkan kapasitas/kemampuan guru dalam pelaksanaan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyeangkan. Namun, dalam pelaksanaannya jadwal tersebut gres menyentuh mata pelajaran Bahasa Indonesia, B. Inggris, Matematika, IPA dan IPS. Sedangkan mapel lainnya belum menerima training khusus.
D. Pertanyaan Penelitian
Pertanyaan penelitian ialah sejumlah pertanyaan yang akan dijadikan dasar atau pedoman dalam melaksanakaan penelitian.
Sesuai dengan judul penelitian: ”Upaya Peningkatan Keterampilan Guru Dalam Penerapan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, Dan Menyenangkan (Pakem) Melalui Kegiatan Pe tes kempuan dan pemahaman Dan Bimbingan (LATBIM) di SMPN 2 Cikeusik Kabupaten Pandeglang” yang menjadi pertanyaan penelitian dalam Perguruan Tinggi Swasta adalah:
1. Apakah kegiatan Pe tes kempuan dan pemahaman Dan Bimbingan (LATBIM) sanggup meningkatkan pemahaman Guru SMPN 2 Cikeusik sehubungan pendekatan PAKEM;
2. Apakah kegiatan Pe tes kempuan dan pemahaman Dan Bimbingan (LATBIM) sanggup meningkatkan keterampilan Guru SMPN 2 Cikeusik dalam menyebarkan PAKEM.
BAB III METODE PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian
Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini dilakukan di SMPN 2 Cikeusik, Kabupaten Pandeglang.
B. Waktu dan Lamanya Penelitian
Penelitian ini dilakukan selama satu bulan terhitung semenjak tanggal 2 Oktober hingga dengan 30 Oktober 2010. disertakan bersama jadwal sebagai berikut:
A. Persiapan Penelitian
1. Rapat Membangun Komitmen 2 Oktober 2010
2. Identifikasi Masalah 2 Oktober 2010
2. Diskusi Penentuan Permasalahan 2 Oktober 2010
3. Pembuatan Proposal Kegiatan 2 Oktober 2010
B. Pelaksanaan Penelitian
1. Penentuan Rencana Tindakan 4 – 23 Oktober 2010
2. Pelaksanaan Rencana Tindakan 4 – 23 Oktober 2010
3. Observasi 4 – 23 Oktober 2010
4. Refleksi 4 – 23 Oktober 2010
C. Pengolahan Data 25-26 Oktober 2010
D Penyusunan Laporan
1. Penyusunan Draf Penelitian 27 Oktober 2010
2. Penyempurnaan Draf 28 Oktober 2010
3. Finishing 29-30 Oktober 2010
C. Subjek Penelitian
Populasi penelitian dalam Perguruan Tinggi Swasta ini yaitu seluruh guru di SMPN 2 Cikeusik yakni sebanyak 17 orang. Karena keterbatasan waktu dan biaya, maka yang yang dijadikan subyek dalam penelitian ini khusus 3 orang, yakni 1 orang Guru mapel PKn, 1 orang Guru Mapel Pendidikan Agama Islam (PAI) dan 1 orang Guru mapel Seni Budaya. Ketiga mata pelajaran (mapel) tersebut ialah mapel yang tidak termasuk dalam kelompok mapel binaan UNICEF.
D. Variabel Penelitian
Penelitian ini berjudul “Upaya Peningkatan Keterampilan Guru Dalam Penerapan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, Dan Menyenangkan (PAKEM) Melalui Kegiatan Pe tes kempuan dan pemahaman Dan Bimbingan (LATBIM) Di SMPN 2 Cikeusik Kabupaten Pandeglang”. Sesuai dengan judul di atas, maka yang menjadi variabel penelitian ini adalah:
1. Variabel bebas (X) atau variabel yang mempengaruhi dalam peneliian ini yaitu adalah “Kegiatan Pe tes kempuan dan pemahaman Dan Bimbingan (LATBIM)”
2. Variabel terikat (Y) atau variabel yang dipengaruhi dalam penelitian ini yaitu “Peningkatan Keterampilan Guru Dalam Penerapan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, Dan Menyenangkan (PAKEM”.
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi dan catatan data lapangan, wawancara, hasil tes dan catatan hasil refleksi/diskusi yang dilakukan oleh peneliti dan kawan peneliti. Penentuan teknik tersebut didasarkan ketersediaan sarana dan prasana dan kemampuan yang dimiliki peneliti dan kawan peneliti.
Uraian lebih lanjut mengenai teknik-teknik pengumpulan data tersebut yaitu sebagai berikut:
a) Penilaian Pre Tes dan Post Tes
Yang dimaksud evaluasi pre tes dan post tes dalam Perguruan Tinggi Swasta ini yaitu evaluasi yang dilakukan kepada penerima Pe tes kempuan dan pemahaman dan Bimbingan dengan memakai serangkaian pertanyaan tertulis yang memerlukan balasan tertulis. Adapun bentuk tes yang dipakai yaitu adalah pilihan ganda, yakni pertanyaan yang meminta responden untuk menentukan kalimat atau deskripsi yang paling akrab dengan pendapat, perasaan, evaluasi atau posisi mereka.
b) Observasi dan catatan data lapangan
Observasi dalam kegiatan Perguruan Tinggi Swasta ini ialah kegiatan pengamatan terhadap acara yang dilakukan guru dan siswa selama melaksanakan kegiatan berguru mengajar di kelas. .
Hasil pengamatan dari kawan peneliti selanjutnya dijadikan catatan data lapangan. Hal ini sesuai dengan pendapat Prof Dr. Rochiati Wiriaatmaja (2005:125) yang menyatakan: “Sumber isu yang sangat penting dalam penelitian ini (PTS) yaitu catatan lapangan (field notes) yang dibentuk oleh peneliti/mitra peneliti yang melaksanakan pengamatan atau observasi”.
c) Catatan hasil refleksi
Adapun yang dimaksud catatan hasil refleksi yaitu catatan yang yang diperoleh dari hasil refleksi yang dilakukan dengan melalui kegiatan diskusi antara peneliti dan kawan peneliti. Hasil refleksi ini selain dijadikan materi dalam penyusunan rencana tindakan selanjutnuya juga sanggup dipakai sebagai sarana untuk mengetahui telah dan sudah tercapai tidaknya tujuan kegiatan penelitian ini.
Sesuai dengan teknik pengumpulan data yang disebutkan di atas, Instrumen penelitian yang dipakai dalam Perguruan Tinggi Swasta ini yaitu soal pre tes, soal post tes, pedoman observasi (contoh sanggup dilihat dalam lampiran).
F. Teknik Pembahasan
Analisis atau pembahasan data dalam Perguruan Tinggi Swasta ini dilakukan semenjak awal, artinya analisis data dilakukan tahap demi tahap atau siklus demi siklus. Hal ini sesuai dengan pendapat Miles dan Huberman dalam Rochiati Wiriaatmaja (2005:139) bahwa “…. the ideal model for data collection and analysis is one that interweaves them form the beginning”. Ini berarti model ideal dari pengumpulan data dan analisis yaitu yang secara bergantian berlangsung semenjak awal.
Kegiatan analisis data akan dilakukan mengacu pada pendapat Rochiati Wiriaatmaja, (2005:135-151) dengan melaksanakan catatan refleksi, yakni pemikiran yang timbul pada ketika mengamati dan ialah hasil proses membandingkan, mengkaitkan atau menghubungkan data yang ditampilkan dengan data sebelumnya atau dengan teori-teori yang relevan.
G. Rancangan Tindakan
Dalam Perguruan Tinggi Swasta ini, rancangan tindakan yang akan dilakukan yaitu pe tes kempuan dan pemahaman dalam bentuk workshop yang diikuti seluruh guru dan kegiatan bimbingan dalam praktek eksklusif di kelas (khusus dilaksanakan untuk 3 orang guru yang menjadi subyek penelitian). Secara rinci tindakan yang akan dilaksanakan yaitu sebagai berikut
1. Mengadakan workshop pengembangan PAKEM yang diikuti seluruh guru SMPN 2 Cikeusik. Kegiatan ini bertujuan: a) Meningkatkan pemahaman Guru SMPN 2 Cikeusik dalam menyebarkan PAKEM; b) Meningkatkan keterampilan Guru SMPN 2 Cikeusik dalam menyebarkan PAKEM;
2. Membimbing guru untuk membuat persiapan mengajar (RPP) berbasis pendekatan PAKEM. Dalam Perguruan Tinggi Swasta ini difokuskan terhadap 3 orang guru yang menajdi subyek penelitian.
3. Mengamati kegiatan guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran berbasis pendekatan PAKEM (dalam Perguruan Tinggi Swasta ini difokuskan terhadap 3 orang guru yang menajdi subyek penelitian)
4. Mengadakan refleksi (diskusi antara peneliti/kepsek dengan guru yang diamati) sehubungan kelebihan dan masih banyak hal yang harus diperbaiki kegiatan pembelajaran berbasis pendekatan PAKEM yang telah dan sudah dilaksanakan dan mencoba membuat formula untuk pelaksanaan siklus berikutnya.





Post a Comment for "Pola Lengkap Penelitian Tindakan Sekolah Lengkap"